Senin, 05 Januari 2015

Kepemimpinan

Kepemimpinan

* Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry)

* Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H.Koontz dan C. O'Donnell)

* Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik).

Dari berbagai definisi yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah:
* Seni untuk menciptakan kesesuaian paham
* Bentuk persuasi dan inspirasi
* Kepribadian yang mempunyai pengaruh
* Tindakan dan perilaku
* Titik sentral proses kegiatan kelompok
* Hubungan kekuatan/kekuasaan
* Sarana pencapaian tujuan
* Hasil dari interaksi
* Peranan yang dipolakan
* Inisiasi struktur


Menurut saya, kepemimpinan adalah sikap seseorang (manager) dalam menyetir bawahannya menuju sesuatu yang harus dicapai oleh sebuah organisasi. Dimana kepemimpinan tersebut membutuhkan skill dan karakter yang kuat agar sosok pemimpin tersebut dapat berhasil menyetir bawahannya menuju tujuan yang ingin dicapai. Kepemimpinan meliputi aspek motivasi karyawan, mengenal karakteristik karyawan, dsb. kepemimpinan harus memiliki skill komunikasi yang baik atau sangat baik agar bawahan mampu menerima perintah dengan jelas dan termotivasi dengan baik dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Teori kepemimpinan

Teori Genetik (Genetic Theory).
Penjelasan kepemimpinan yang paling lama adalah teori kepemimpinan “genetic” dengan ungkapan yang sangat populer waktu itu yakni “a leader is born, not made”. Seorang dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat-sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.

Teori Sifat (Trait Theory).
Sesuai dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social. Penganut teori ini yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka seseorang akan memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi pemimpin yang efektif. Karakter yang harus dimiliki oleh seseorang menurut Judith R. Gordon mencakup kemampuan yang istimewa dalam (1) Kemampuan Intelektual (2) Kematangan Pribadi (3) Pendidikan (4) Status Sosial dan Ekonomi (5) “Human Relations” (6) Motivasi Intrinsik dan (7) Dorongan untuk maju (achievement drive).

Teori Perilaku (The Behavioral Theory).
Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti “behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku seseorang untuk memimpin secara efektif.

Situasional Leadership.
Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif. Dalam “situational leadership” pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat. Seorang pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan menyesuaikan kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Empat dimensi situasi yakni kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan seorang

Transformational Leadership.
Pemikiran terakhir mengenai kepemimpinan yang efektif disampaikan oleh sekelompok ahli yang mencoba “menghidupkan” kembali teori “trait” atau sifat-sifat utama yang dimiliki seseorang agar dia bisa menjadi pemimpin. Robert House menyampaikan teori kepemimpinan dengan menyarankan bahwa kepemimpinan yang efektif mempergunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas yang tinggi untuk meningkatkan kadar kharismatiknya (Ivancevich, dkk, 2008:213)

Kecerdasan emosional dan efektivitas kepemimpinan

Kecerdasan emosional mencerminkan bagaimana pengetahuan diaplikasikan dan
dikembangkan sepanjang hidup seseorang. Pemimpin yang baik adalah yang mempunyai
kecerdasan emosional, yang mampu memahami dampak perilaku personal mereka terhadap
orang-orang yang ada di dalam organisasinya.
Kecerdasan emosional sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan seseorang, karena
kepemimpinan yang efektif adalah yang mempunyai empat elemen kecerdasan emosional
yaitu: Kesadaran diri; Manajemen diri; Kesadaran sosial dan Manajemen hubungan.
Kecerdasan emosional juga berpengaruh terhadap organisasi, sebab organisasi, dimana
individu-individunya mempunyai kecerdasan emosional yang memadai, akan dapat berkinerja dan mempunyai produktivitas yang tinggi.

Kecerdasan emosional yang baik dapat berdampak baik terhadap efektivitas kepemimpinan dalam mengomandoi karyawan dalam mengejar suatu target. Kecerdasan emosional bukan hanya sekedar materi materi formal saja, tetapi juga keterampilan seseorang dalam mengembangkan bakat informalnya, baik itu humor, sikap santai, dan sikap easy going yang membantu pemimpin dapat berinteraksi dan memiliki hubungan yang baik dengan bawahannya. Dimana para bawahannya tersebut merasa nyaman dengan sosok pemimpinnya tersebut. kecerdasan emosional ini juga bermaksud kepada berbagai aspek self management. Ketika seorang pemimpin memiliki self management yang baik, maka ia mampu memanage orang lain dengan baik juga.

Peran kepemimpinan kontemporer


Definisi sederhana dari kepemimpinan kontemporer dapat kita simpulkan kepemimpinan kontemporer menekankan pemimpin sebagai pembentuk makna atau menggunakan kata-kata, gagasan dan kehadiran fisik untuk mengendalikan bawahanya.

Jadi, kepemimpinan kontemporer itu menerapkan segala aspek kepemimpinan yang baik: komunikasi yang baik, praktek yang baik, ide ide atau pemikiran yang cemerlang, untuk mendorong bawahannya dalam mencapai tujuan organisasi.

TEORI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER

 1.      Kepemimpinan Karismatik Para pengikut terpicu kemampuan kepemimpinan heroik yang luar biasa, ketika mengamati perilaku pemimpinnya.

 2.      Kepemimpinan Transformasional Pemimpin yang menginspirasi pengikutnya untuk melampau kepentingan pribadi mereka dan mampu membawa dampak mendalam dan luar biasa bagi para pengikutnya.

3.      Kepemimpinan Transaksional Pemimpin yang memotivasi para pengikutnya menuju ke sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas persyaratan peran dan tugas

 4.      Kepemimpinan Visioner Kemampuan menciptakan dan mengartikulasi visi yang realistik, kredibel dan menarik masa depan organisasi yang sedang tumbuh dan membaik dibanding saat ini.

PERAN KEPEMIMPINAN KONTEMPORER

1.            Bersedia memimpin tim
Kepemimpinan harus didasarkan niat yang baik. Apabila niat pemimpin sudah tidak baik, maka orang orang yang dipimpin pun akan dalam keadaan yang tidak baik pula.

2.            Mentoring
Seorang pemimpin harus mampu menjadi mentor bagi para bawahannya. Karena sosok pemimpin ialah sebagai atasan dan dinilai sebagai orang yang lebih profesional dibandingkan dengan karyawan lainnya. Jadi, seorang pemimpin harus mampu menjadi mentor saat bawahannya mengalami kendala atau kesulitan dalam menjalankan tugasnya, tidak hanya memberikan tugas dan tidak dapat membantu secara langsung dalam menjalankan ide/gagasannya.

3.            Mampu memimpin diri sendiri

Seorang pemimpin jelas harus mampu memimpin orang banyak, dan juga diri sendiri. Apabila self management seorang pemimpin tersebut sudah berjalan dengan baik, maka pemimpin tersebut mampu memanage orang banyak. Awal mula menjadi pemimpin orang banyak yang baik adalah mampu memimpin diri sendiri menjadi yang lebih baik.

*NOTE: kalimat yang bergaris miring merupakan pendapat pribadi saya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar